Thursday, May 24, 2007



27 MEI 2006 (setahun gempa yogyakarta 5,9 SR)


S
ubuhku telat. sudah pukul 05.30 WIB. ya beberapa hari ini yang namanya solat subuh selalu diujung waktu. entahlah....akhir-akhir ini aku sulit mengalahkan kantuk, hawa kasur dan hangat selimut untuk bersegera solat subuh. mungkin dinding masjid sedikit mengolok-olokku karena beberapa subuh telah tertinggal untuk dihabiskan disana. aku keluar kamar dengan terkantuk-kantuk, apa harus maklum ya gara-gara tadi malam tidur pukul 00.00 padahal biasanya kalo memang bisa bangun pagi, tidur jam berapapun bisa bangun tersentak. Setelah ambil wudhu, aku bukannya bergegas malah berlagak kayak sudah solat saja. seorang temen kos dengan ramah menyapa “selamat Pagi!!!” agar tak kecewa ku balas saja masih dengan terkantuk-kantuk, “pagiiii...!!!” ehem..agak serakk.

Ah, kuputuskan untuk mendengkur kembali setelah dengan singkat kuakhiri solat pagi ini. namun sebelumnya aku mengintip ke jendela. wah fajar sudah mulai merah merekah menghiasi langit pagi sejuk ini. nyam..nyam acara molor kulanjutkan, padahal kalo ayahku tau pasti beliau marah besar dan pecahlah perang dunia ke3. ah...tinggal di kos ini..mumpung gak ada patroli dari rumah. miring kekanan mepet ke tembok kamar, sambil mengapit tangan di sela kakiku, posisi favorit kalo kedinginan. Badan gendut ini dengan bebas mendarat diatas kasur. hmm nyaman..

........

deg.....deg....deg....deg......deg deg deg deg deg

......

Aku sontak kaget....terkejut, balik badan dan berdiri. Goncangan hebat di kamar ku begitu luar biasa....aku berfikir ada kegiatan yang mengakibatkan tanah ini berguncang. Suaranya kencang, seluruh isi kamar berguncang hebat....aku merasa seperti dalam gerbong kereta api yang sedang melaju kencang dengan goyangan yang hebat. Kontan saja aku keluar kamar tapi tak lupa aku mengenakan jilbab, walau tak yakin ini goncangan hebat akibat peristiwa alam, aku berlari keluar. Ternyata teman-teman satu kos sudah lebih dulu lari menuruni tangga. Aku menyambar jaket digantungan balik pintu, malah aku masih sempat berteriak mengingatkan teman-teman untuk mengenakan jilbab, pikirku agar kalo kami keluar rumah tetap mengenakan jilbab walau dalam keadaan kacau sekali pun. Sampai di lantai bawah dan di teras... ternyata teman-teman sudah berada dibawah dengan muka pucat pasi.

Ya..ini namanya GEMPA, dan seumur hidupku baru saat ini dengan hebat aku merasakan gempa, malah dulu walau gempa kecil pun tak pernah kurasakan, ternyata keinginan bisa merasakan gempa kualami juga. Tapi terang saja aku pucat dan jantung berdebar kencang. Kami semua terdiam...untung semua penghuni kos sudah sadar dari tidur pagi itu. Kulihat jam dinding di teras pukul 06.05 (lebih cepat 10 menit-pen). Kepalaku pun melongok keluar di sela-sela pagar yang masih tertutup rapat. wah sudah banyak orang keluar rumah dan semuanya tersentak kaget, sama seperti yang kami alami. Masing-masing menenangkan diri. Malah ketika sebentar dibawah.. sempat goncangan kecil terasa. kami panik lagi. akibatnya seorang teman jadi jatuh karena shock...semua bergerak spontan menolong. ada yang menangkap badannya, sebagian mengambil kursi bambu untuk merebahkan tubuhnya yang sudah dingin dan pucat. tentu saja bantuan bantal kepala dan segelas air minum diminta pada penghuni kamar yang terdekat dengan pintu.

Sementara yang lain termasuk aku buru-buru mengambil handphone dan dompet yang sejauh ini dinilai lebih penting dibanding yang lain. mulutku yang dingin tak berhenti mengucapkan ALLAH. aku takut dan masih tersisa rasa kaget saat bangun tadi. kulirik tiang listrik yang kabelnya sudah bergoyang2 seperti permainan lompat tali. kujelajahi wajah teman-teman satu persatu, hanya satu yang kutangkap dari airmuka mereka yang pucat dan dingin, sebuah keterkejutan atau bahkan ketakutan dan kekhawatiran. tak jarang juga bibir mereka berkomat-kamit berzikir atau sekedar mengucapkan asma ALLAH.

Subhanallah..darahku berdesir....detak jantungku memacu hebat. seorang teman menuntun tanganku kearah jantungnya yang juga sudah berdegup kencang. tak kuasa ia pun terduduk di lantai teras... seorang mengarahkan jangan duduk di bawah beton takutnya kalau roboh akan menimpa. semua bergeser dan untungnya di depan teras ada ruang kosong yang beratapkan langit. semua berhamburan. aku sibuk memencet nomer handphone keluarga di Pematang Siantar dan kakak di Jambi. tak satu pun tersambung. sementara seorang teman yang menyapaku tadi pagi terduduk tak kuasa karena kakinya keseleo saat lari tadi. yang lain juga sibuk menghubungi keluarganya dan lainnya membantu temen yang berbaring dikursi tadi. aku terdiam tak bisa berbuat apa-apa. hanya memandangi sekitar.

Lama berdiri dan mondar mandir, aku terpikir warnet tempat aku bekerja. bagaimana keadaan disana. aku membuka pagar dan terlihat pemandangan orang-orang yang berkumpul didepan rumahnya masing-masing. aku berjalan menuju warnet. seorang teman mengejar “ mau kemana, Dang?” aku yang bergegas segera menghentikan langkah, “mau ke Shikyu, Mbak”.

“aku ikut..” kami pun bergegas kewarnet.

Di warnet ada teman operator.. ia pun menyambut kami dengan cerita kagetnya tentang gempa. ia juga menunjukkan garis-garis retak didinding yang banyak mengukir di seluruh ruang warnet itu. aku tak berselera masuk kedalam. setelah kuamati sesaat aku pun memilih duduk diluar. seorang teman yang lain datang bersama adiknya. mereka mencoba mencari informasi tentang gempa, setelah itu kami pun bercakap2 sebentar. saling bertukar pengalaman yang sebentar tadi dengan gegap gempita. perut ku tak enak...sepertinya efek dari cemas atau memang mau kebelakang. kuputuskan sebelum menyesal aku langsung lari ke kamar mandi. walau cemas, akan ada gempa lagi.. aku pasrah dari pada kutahan atau malah keluar diluar. aku pun berniat sekalian berwudhu. bisa saja ini jadi solat Dhuhaku yang terakhir..entahlah...dengan seadanya dan air yang sedikit aku solat di belakang warnet.

Teman ngobrol tadi pun bubar, yang satu mau memeriksa kosnya, temen satu kosku yang satu mau mandi sebelum dia bertugas jaga warnet, yang satunya lagi bersama adiknya juga bubar jalan. aku sendirian di warnet daripada bengong dalam sepinya ruangan ini lebih baik kubuka web browser, kucari sedikit informasi, memang benar, di salah satu website menuliskan, tadi pagi sekitar pukul 05.57 WIB kota Yogyakarta diguncang gempa tektonik berskala 5,9 skala richter. Pusat gempa diperkirakan berada di laut selatan Yogya. wah bisa tsunami, aku membatin.

Tak lama temen kosku itu pun datang karena memang saat ini tugasnya yang berjaga. kami memang teman kos dan sesama rekan operator. kutanya padanya, “gak papa ditinggal sendirian kan?”. “ya gak papa deh,” jawabnya agak ragu. “mau mandi dulu, kalo ada apa-apa telpon aja. pulang ya..assalamualaikum”. tak sempat kudengar balasan salamku atau memang tak di balas aku berbegas pulang ke kos. sampai di kos, tampak agak sepi, sepertinya sebagian orang sudah bergegas membawa bekal dan berniat mengungsi bahkan pulang ke kampung halaman. sementara aku naik ke lantai atas dan yang lain sedang membersihkan kamarnya. aku pun masuk ke kamar, kuperhatikan ruang 3x2,5 itu baik-baik. barang-barang kecil sudah terjatuh ke lantai dan berserakan. begitupun kain sarung dan bantal yang kutinggal lari tadi. Untungnya TV dan barang-barang yang di dinding tak turut mendarat ke lantai. Tapi ...sedikit berlubang plafon kamarku tepat diatas lemari pakaian. lobangnya hanya secuil, membentuk segitiga sama sisi. heran..dari semua kamar yang ada hanya plafonku yang berlubang. padahal plafon yang lapuk karena air bukan di sana. entahlah.. aku ikut membereskan kamar seperti yang lain. aku berniat mandi, kuambil handuk yang sudah kena lumpur dari genteng. sebelum masuk kamar mandi aku sempatkan menyalakan TV lagipula masih ada orang di kamar mandi. Sempat kami dengarkan sekilas berita tentang gempa. Kami konsentrasi mendengar berita. tiba-tiba.....

goncangan terasa kembali, masih sedikit kuat walau tak sehebat tadi...

Kami semua berteriak gempa....teman yang dikamar mandi tak sempat mau sikat gigi berlari keluar kamar mandi. TV kumatikan, handuk langsung ku lempar ke kursi dan jilbab serta jaket kuraih langsung berlari menuruni tangga disusul teman ku yang lain. sampai di bawah langsung kubuka gerbang sekuat tenaga agar terbuka lebar. Begitu pagar dibuka, langsung disambut dengan teriakan “air...air...laut naik...cepat lari kak...!!!” aku dan temen-temen yang dibelakang langsung kaget. tapi aku masih sempat diam sebentar. aku berfikir..kalau tadi temen yang membawa kabar air naik tadi dari Bank di daerah UGM. berarti airnya sudah sampai UGM dan aku pun melihat ke arah jalan raya, banyak motor berbondong-bondong menyelamatkan diri. Kami pun lantas berlari tak tentu arah, aku yang berada paling depan diteriaki teman yang dibelakang, “mau lari kemana?” aku tak hanya panik malah juga bingung. Sekenanya aku menjawab “..ng....ng lari ke utara” teriakku sambil berlari seperti memimpin pasukan perang yang tak tentu arah. Aku teringat pula pada teman yang diwarnet, langsung aku berlari ke belakang warnet berniat menghampiri teman tadi. Aku pun belok kanan, sontak pasukan kecil tadi rem mendadak dan bertanya “lho mau kemana?”. “udah lanjut aja...lari.!!!!!” teriakku sedikit gemetar. Segera saja aku memaksa teman keluar dari warnet dan ikut lari menyelamatkan diri bersama kami. Si teman pun tanpa befikir panjang mengamini perkataanku. Di tengah jalan, seorang warga menanyaku “ada apa mbak?”. Dengan percaya diri dan tanpa kejelasan informasi aku menjawab dengan sekuat tenaga, “ada air laut naik” ah entahlah pikiranku kacau.

Aku melanjutkan lariku bersama teman-teman. Ternyata diujung jalan sudah banyak orang-orang yang berlari panik menyelamatkan diri tak tentu arah. Yang dari selatan (arah laut) berusaha ke utara (arah ke gunung Merapi) dan berfikir akan selamat disana. Ternyata orang-orang yang dari utara malah berlari ke arah selatan karna pada saat gempa, Merapi sempat menyembulkan laharnya. Kebetulan kos tempat aku bernaung berada di utara dan dekat dengan Merapi. Aku dan teman sempat berhenti. Dalam bayanganku kalau air sudah sampai disini (jalan Kaliurang-pen) pasti minimal semata kaki sudah terlihat. Tapi ini tidak, bukan berharap seperti itu tapi aku teringat pada tayangan peristiwa tsunami yang diambil gambar amatirnya tampak air perlahan tapi pasti menyeret seluruh benda-benda yang entah dari mana datangnya.

Kami berhenti dipinggir jalan berdiskusi diantara orang-orang yang panik tadi. Semua jadi kacau persis seperti peristiwa Desember lalu di bumi Aceh. Sebagian teman terpisah dari rombongan, kami berusaha menghubungi tapi sia-sia karena akibat gempa jaringan telepon terputus. “kita harus tau dulu bener gak di selatan air sudah naik.” Seorang temen berargumen memecahkan lamunan masing-masing. “iya tapi gimana?” kami sudah cukup bingung dengan peristiwa ini. “ya kita tanya atau telpon pihak yang tau persis informasi ini”. Aku malas berfikir tapi aku setuju kalau kami mengakhiri lari kami diantara orang-orang tadi. Lama kami berdiri, masih terasa pusing karena bumi ini masih terasa bergoyang. Tiba-tiba aku teringat ke warnet, kami tak sempat mneguncinya tadi. Aku khawatir akan ada pihak yang mengambil kesempatan ditengah-tengah kepanikan ini. Hasrat hati ini ingin kembali kesana, tapi aku juga berfikir kalau memang tsunami datang, aku sibuk menyelamatkan harta benda aku akan mati bersama harta. Namun ini juga soal amanah menjaga harta orang lain yang dititipkan bila semuanya hanya kepanikan belaka. Ah..aku benar-benar dilema.

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali kekos, sampai disana ternyata kulihat warnet sudah terkunci rapat dan digembok. Sementara di kos, gerbang terbuka lebar. Dasar orang panik!! kos kami bisa saja kemalingan.

Tiba-tiba...deg...hatiku kembali berdegup tapi bukan karena goncangan hebat lagi tapi karena kulihat masjid yang tak jauh dari kos. Batinku lirih berbisik, “kenapa aku tak menyelamatkan diri dari ketakutan kepada yang Maha Menyelamatkan. Tempat dimana rumahNya benar-benar aman” masih terngiang diingatanku betapa porak-poranda Aceh dihantam tsunami tapi yang namanya masjid sesederhana apapun bangunannya tetap berdiri kokoh. Aku merinding. Dengan langkah gontai aku masuk kedalam kos. Persendianku benar-benar lemas. Aku naik menyusuri tangga yang melalui kamar-kamar yang sudah ditinggal lari penghuninya. Aku lari kemana?

Aku disambut teman dengan ceritanya. Aku agak malas berbicara. Aku segera menuju kamar mandi, masih tersisa peralatan mandi dan handuk temanku sebelum lari tadi. Agak seram hati ini mengingat kalau sedang dikamar mandi tiba-tiba gempa terjadi lagi..ahh aku pasrah saja. Sekarang menjadi kesepakatan kami bila ke kamar mandi harus saling berjaga-jaga. Aktivitas seperti sikat gigi atau selain mandi maka pintu kamar mandi tak usah ditutup. Aku pun mempercepat mandiku, biar langsung bersiap-siap keluar lagi. Selesai mandi hati ini agak sedikit lega. Seorang teman menyambut dengan ajakan untuk menunaikan solat sunnah Dhuha berjama’ah dan aku diminta untuk memimpinnya. Sekalian saja solat Taubat pikirku ya setidaknya sekali ini agak serius. Walaupun Tuhan jauh lebih tahu kalau aku dan mungkin kami bisa saja lalai lagi sehabis ini. Tapi solat kali ini kami tunaikan dengan khidmat, airmata pun tak pelak membasahi hati ini. Doa kami panjatkan dengan sepenuh hati. Entah karena takut yang begitu hebat atau benar-benar merasa dekat denganNya.

Seusai solat kami semua saling bermaafan lebih khidmat dibanding suasana Idul fitri. Tentu saja karena kami semua berfikir mungkin bisa jadi ini pertemuan terakhir kami setelah itu siapa tahu salah satu dari kami dipanggilNya. Kemudian masing-masing kami pun berkemas, menyiapkan ransel untuk membawa bekal pakaian bahkan surat-surat berharga dan entah untuk sampai kapan. Semua masih serba menduga-duga. Lantas semua kamar dikunci, kami yang sudah tinggal beberapa orang keluar dari kos. Tak tahu tujuan. Bagiku tidak mungkin kembali ke kampung halaman di utara sumatera. Selain jauh, kondisi belum kondusif. Namun bagi teman-teman yang dekat rumahnya dari Jogja lebih memilih pulang saja. Kami yang tertinggal hanya bisa menunggu diluar kos dengan pakaian rapi dan lengkap dengan ransel layaknya pasukan yang sudah siap siaga berangkat. Lagi lagi tak tentu arah. Tak ada yang berani masuk ke dalam. Takut bila gempa susulan datang lagi.

Kami tak bisa mencari informasi yang lebih tentang gempa ini. Hanya samar-samar terdengar dari radio handphone yang memberi informasi itupun tak begitu lengkap. Aku mencoba menghubungi ke rumah. Akirnya bisa juga berbicara dengan ibu. Dari seberang kutangkap ada nada khawatir dari suara beliau. Menanyakan keadaanku dan memaksa untuk pulang saja ke rumah. Ya...aku sedikit terharu. Bagaimana tidak, selama 3 tahun merantau di Jogja baru kali ini aku disuruh pulang. Bahkan lebaran saja tak pernah ada tawaran menggiurkan seperti ini. Dasar! Masih sempat-sempatnya aku berfikir seperti ini. “belum bisa kemana-mana mak...jalur udara dan darat terputus dan kondisi belum meyakinkan” itulah alasanku untuk meredakan kekhawatiran si emak. Tapi beliau tak mau peduli, pokoknya aku harus pulang segera dengan cara apapun. Wah kalau begini repot jadinya. Setelah mengakhiri pembicaraan, aku jadi pusing, selain memang keadaan bumi belum stabil, perintah untuk pulang segera tak boleh ditentang.

Kami semua hanya bisa duduk menunggu di depan kos, kebetulan depan kos menghadap selokan Mataram sehingga ruang pandangnya cukup luas. Kupandangi sekitar, tampaknya orang-orang yang tadi pagi panik sekarang terlihat biasa-biasa saja. Apa memang hanya kami yang siap-siap hendak berlari. Masing-masing kami terbawa lamunan. Aku sendiri merenungi kejadian yang bagai mimpi itu. Keadaan orang-orang tadi begitu persis gambaran tentang kiamat. Aku tersadar bahwa begitu kecilnya manusia dihadapan Tuhan. Ini baru goncangan yang kecil. Bagaimana bila nanti terjadi kiamat yang sesungguhnya. Ah entahlah...mungkin akan lebih parah dari ini. Aku sampai bergidik memikirkannya.

Seorang teman mulai bercerita, mengulang rentetan kejadian tadi pagi, mulai ketika kami berhamburan keluar kamar sampai saat kami berlari bermaksud menyelamatkan diri. Ada terselip kegelian di dalam hati tapi juga malu pada diri sendiri pun turut menyeruak. Malu karena beginilah manusia bila ketakutan. Padahal saat ini aku dan mngkin yang lainnya belum menjadi manusia seutuhnya. Tertawa kami getir. Hanya berusaha saling menghibur agar tidak terlalu stres menghadapi semuanya.

Obrolan kami terhenti ketika azan Zuhur berkumandang. Kami langsung menuju mesjid, ya selain masih takut masuk kedalam kos, mungkin lebih aman di masjid pikir kami. Sejenak aku membatin, coba kalau tiap hari begini tanpa perlu ada gempa dulu baru kami ramai-ramai ke mesjid. Ya mungkin Tuhan pun berkata demikian,manusia baru sadar bila dijewer dulu. Itupun kalau sehabis dijewer sadarnya akan tahan lama. Biasanya berdasarkan pengalamanku, sering sekali kesadaran itu bagai musim yang selalu silih berganti. Entahlah aku sendiri lelah menjadi pendosa, kembali lalu tersesat lagi, sehabisnya kembali lagi dan seterusnya. Mudah-mudahan akan berakhir dengan baik. Sehabis solat berjamaah, kami berniat beli makanan. Padahal perut tak terasa lapar apalagi berselera tapi kami harus makan karena butuh tenaga. Untungnya warung seberang kos langganan kami tetap buka. Kami berbondong-bondong kesana, membeli makanan sekenanya. Tak seperti biasanya, memilih mana yang menggugah selera. Kali ini cukup membuat perut terganjal saja.

Kami kembali lagi ketempat berkumpul semula. Mungkin bila seseorang memperhatikan gerak-gerik kami pasti akan keheranan. Kami seperti musafir yang senantiasa membawa-bawa bekal perjalanan.

Siang ini kami menghabiskan waktu duduk didepan kos dengan peralatan lengkap. Sebagian teman yang tadinya ikut rombongan memutuskan untuk pergi. Ada yang pulang ke rumah dan ke tempat saudara di luar Jogja. Ya.. tingallah kami yang berasal dari Sumatera yang tak tau harus kemana. Kami tinggal bertiga dan terpaksa hanya di kos. Sebenarnya teman menawarkan untuk ikut besertanya ke tempat saudara. Tapi aku memilih untuk menemani teman yang tak bisa kemana-mana.

Hari makin sore. Kami memutuskan untuk masuk saja. Kami tak berani masuk atau berlama-lama di kamar karena takut terjebak bila nanti ada gempa susulan. Semua perlengkapan ditaruh di ruang TV. Termasuk kasur untuk kami tidur nanti malam. Semua kamar terkunci rapat, begitupun kamar kami, hanya mengambil barang seperlunya. Aku sendiri membawa ijazah D3ku, beberapa baju ganti, pakaian dalam dan peralatan mandi dan beberapa perlengkapan lain.

Diam-diam aku mengamati kamarku, sempat terbersit di batin, wah bagaimana kalau gempa keras mengguncang lagi kos ini roboh, maka barang-barangku akan hancur. Padahal didalamnya ada kado ulang tahun pemberian teman-teman yang baru kubuka dua minggu lalu. Ya sudahlah harus bagaimana, semua ini hanya titipan Tuhan. Kalau sewaktu-waktu Ia mau mengambilnya maka aku harus siap.

Malam ini terasa sepi, siaran TV tak ada. Kami hanya bertiga dan ada anak baru yang masuk kos. Lumayanlah ada teman. Anak baru itu pasti tidak menyangka kedatangannya pertama kali ke Jogja disambut gempa. Kami keluar mencari makanan menelusuri sepanjang selokan Mataram utara fakultas kehutanan UGM. Diluar begitu sepi hanya beberapa orang yang kami temui sedang berkumpul di depan rumah mereka. Warung-warung makan dan kios-kios tutup. Jogja sangat mencekam malam ini. Jogja bisa terasa sepi hanya bila hari lebaran idul fitri saja, namun kali ini benar-benar mencekam. Semua orang was-was dan membisu.

Untungnya satu warung tetap buka, kalau tidak bisa saja kami kelaparan malam ini. Semua orang sepertinya juga kewalahan mencari warung makan yang buka. Kami pun pulang membawa makanan yang hanya untuk malam ini. Kami berfikir bagaimana besok, apakah ada warung yang buka. Padahal kami satupun dari kami tak ada yang menyimpan makanan di kamar. Ya lalui saja malam ini. Besok akan difikirkan bersama-sama lagi.

Sampai di kos kami menyantap makanan dengan waspada. Ada tertinggal sedikit trauma. Walau sedikit tetap membuat kami selalu was-was. Kami mencoba melihat TV mungkin kali ini siarannya bisa seperti sedia kala. Siarannnya biasa saja tak ada tayangan yang membuat kami mendapat informasi tentang gempa. Separah apakah gempa tadi pagi, dimana pusat gempa yang sebenarnya, apakah ada korban jiwa. Kami benar-benar buta informasi. Hanya sepi yang dirasa dan cekam yang menghantui hati kami masing-masing.

Sekitar pukul 23.00 malam kami bergotong royong membawa kasur ke teras karena malam ini kami memutuskan untuk tidur diluar saja. Takutnya bila nanti kami lelap tak terasa bila gempa datang lagi. Semua perlengkapan tidur pun dibawa. Kami berempat tak memikirkan apa-apa selain tidur dengan aman malam ini. Aku melongok keluar pagar yang sudah kami kunci dari tadi. Ternyata semua orang disekitar kos ini berjaga-jaga diluar dan bernasib sama dengan kami, tidur bersama diluar. Malah mereka tidur di kaki lima depan rumahnya.

Kasur yang dibawa hanya satu. Itupun peninggalan seorang teman yang sudah pulang kampung. Kami tak bisa membawa kasur masing-masing karena nanti akan lebih repot. Aku memilih tidur di kursi bambu di teras. Selain memang hobi tidur di kursi, biarlah ketiga temanku saja yang dikasur karena lebih nyaman di kursi ini. Lagipula salah satu teman yang keseleo tadi pagi saat lari, harus lebih nyaman tidurnya. Tapi teman itu menawarkan ide konyol, “yuk...kita foto!” kami pun menyambut tawarannya dengan tawa lepas. Ah ada-ada saja masih sempat-sempatnya kami berfoto disela-sela ketakutan ini. Tapi dokumentasi ini juga penting pikirku, ya walaupun tak detail setidaknya ada kenang-kenangan dari kejadian ini.

Setidaknya kami agak lebih rileks, karena seharian kami merasa tegang dengan situasi. Kami pun mencoba beristirahat, walaupun mungkin tak bisa lelap seperti biasanya. Berusaha pejamkan mata, walau saat ini hanya ada kecemasan dalam hati yang menemani malam sunyi ini. Mungkin karena lelah akhirnya kami tertidur namun sekitar pukul 01.00 hujan rintik turun. Seorang teman terbangun dan mengusulkan agar kami agak masuk kedalam. Tetap saja kami tak mau masuk ke dalam atau tidur di kamar masing-masing. Kami berfikir lebih baik kami diluar dan saling menjaga, daripada didalam kami terlelap dan kalau gempa lagi tak ada yang terselamatkan. Entahlah, was-was ini sangat menyeruak dalam dada.

**********************

Beberapa hari setelah gempa, kami baru mendapat informasi yang lengkap dari TV. Bahwa gempa kemarin bukan karena gunung Merapi yang sedang aktif yang kami bisa saksikan dari lantai atas kos-kosan saat subuh tapi dari kedalaman laut selatan. Yang terpenting, gempa kemarin tidak berpotensi tsunami yang diisukan sehingga membuat Jogja mengalami histeria massa.

Ternyata banyak korban di Bantul dan Klaten. Baik yang meninggal atau pun kehilangan tempat tinggal. Kehilangan anggota keluarga, kehilangan anggota tubuh dan sebagainya. Kami baru sadar bahwa gempa kemarin adalah gempa yang cukup dahsyat. Tapi terselip dalam hati sebuah pertanyaan, bagaimana nanti kalau kiamat itu datang dengan segala gambaran yang sudah dicatat dalam Al Quran. Dalam waktu 10 menit semua rata dengan tanah. Hanya sedikit lempengan bumi yang digeser, manusia sudah kalang kabut. Kali ini Jogja berduka, Indonesia kembali luka. Tuhan sudah berkali-kali mengirim sandi kepada kita baik tersirat maupun tersurat.

Sejak gempa aku dan teman-teman kos yang tersisa, lebih sering solat berjamaah 5 waktu di ruang TV. Ya mungkin hanya musiman tapi yang terpenting saat ini hati sedang tergugah dengan rasa takut yang dititipkan Tuhan. Kami pun belum kemana-mana selama seminggu gempa. Seorang teman yang ikut menjadi relawan bercerita banyak tentang korban yang belum sepenuhnya tertangani karena bantuan dan fasilitas yang seadanya. Stok sembako, pakaian dan lampu darurat serta tenda telah habis di Jogja. Sampai-sampai para relawan harus hunting ke luar kota.

Handphone pun tak berhenti oleh sms dan telpon yang masuk. Dari sanak famili bahkan kawan-kawan lama. Aku pun mencoba menghubungi teman-teman yang juga berada di jogja. Bahkan seorang teman menanyakan adik atau kakaknya yang susah dihubungi. Tapi ya..aku pun sulit menghubungi.

Ransel yang berisi pakaian seadanya selalu siap sedia. Kami masih waspada bila gempa kembali terjadi. Walau tidur tidak lagi diluar kos, namun kami tidur di ruang TV. Gempa kecil masih selalu terasa. Kami sering terkaget-kaget dan refleks berdiri atau kadang rasanya ingin berlari. Ini yang terkadang membuat kami lebih sensitif terhadap guncangan atau suara gemuruh sekecil apapun. Trauma kecil menyelinap dalam dada kami masing-masing. Terkadang agak stres memang, sampai sudah tak tahannya seorang teman tak sadar berucap,”aduh kenapa gak sekalian aja kita jadi korban biar lega kalau begini kita takut-takut terus”. Ucapannya tak bisa disalahkan, bukan karena arogan tapi karena cemas dan ketakutan yang tak tertahankan. Aku jadi berfikir lagi. Tuhan...beginilah rasanya takut dan terasa kecil dihadapanMU. Kalau sudah begini berbuat salah sekecil apapun sudah enggan rasanya. Ya mudah-mudahan akan seterusnya seperti ini.

Monday, May 07, 2007

setiap yang berlalu lalang dalam hati ini.

semua terlalu sepat berlalu!! aku hanya diberi waktu 3 tahun+1 tahun untuk menikmati kasih orang terdekat, rentetan perjalanan ruhiyah yang kali ini benar-benar membuatku merindukan semuanya. disini aku benar-benar kemarau, pasang surut yang luar biasa, menyeret lantas menghempaskan diri di kerasnya batu karang akibat tawa sumbang.

belum bisa diri menjadi teman baik sudah berlalu semuanya. kisah ini persis daun kering yang jatuh ke tanah depan rumah. lantas angin menerbangkannya bersama sedih dan perpisahan. entahlah kemana arahnya, sampai ketika ia kan remuk diinjak kaki manusia.


Sunday, January 28, 2007

kalau aku punya kuasa untuk memutar waktu
ada bagian dari hidup yang ingin benar kuhapus
bagian hitam kelam yang sampai detik ini tetap menghantui saja kurasa
ada episode yang sering terulang
disadari atau tanpa disadari
semuanya dengan judul yang sama Hina!
tapi apalah gunanya menerawang ruang waktu lalu
hanya membuat jiwa sakit dan pedih
selalu sama rasanya
tak ada yang mampu menyelamatkanku
ini menjadi sandungan kecil yang pengaruhnya luar biasa
perjalananku kadang tersendat
bahkan membuat terpental mundur kebelakang

lantas kenangan indah akan tetap kusimpan rapi dalam otak ini
saat aku baru tertatih menggapai Nya
hangatnya rumah saat kecil
teman sepermainan
hangatnya kasih ayah bunda
sejuknya doa tiap orang yang terkasih
senantiasa membasahi hati ini


........................................

Friday, December 08, 2006

selamat pagi Tuhan....

pagi ini aku sedikit baikan, lebih lega, karena seharian kemarin aku babak belur dengan kesalahan. juga setelah Engkau beri pelajaran yang cukup mengguncangkan kembali kepercayaan diriku. terima kasih Tuhan, aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki hari-hariku. juga aku pun memohon maaf serta ampun sedalam-dalamnya karena banyak fungsi ajaib dari bagian tubuhku tak kupergunakan dengan baik. apalagi fungsi otak yang kau karuniakan sejak aku terlahir ke bumi ini, belum pernah kupergunakan pada hal yang bermanfaat. aku yakin Kau pun murka atas semuanya.

Tuhan....sekali lagi Kau tunjukkan betapa bodohnya aku ini, dihadapan dunia ini dan mereka yang merupakan segelintir kebesaranMu. Kau-pun telah bukakan mataku betapa angkuhnya aku dengan kebodohan itu, aku masih merasa hebat, padahal aku bukan apa-apa, aku kecil dihadapanMu, kotor lagi hina.

tapi..tunggu dulu...bukankah sudah sering seperti ini kan? ya, aku ingat betul kalau kau sebenarnya bukan sekali dua kali mengingatkanku bahkan berkali-kali. anehnya kenapa tak kunjung ada perbaikan... jangan-jangan hatiku ini sudah keras dan membatu? dan parahnya lagi Engkau tahu persis kalau aku sering menghianatiMU dan aku menyesalinya kalau ada perlunya saja, kalau ada maunya.

kutunggu jawabanMu Tuhan... serta cantumkan pula tata cara memperbaikinya serta berikan juga aturan pemakaian pada perjalanan selanjutnya. biar aku tak tersesat untuk kesekian kalinya. kan kata orang-orang kalau hanya keledai yang jatuh pada lubang yang sama.

jujur saja sebenarnya aku malu di hadapanMu. karena aku benar-benar telanjang di depanMu. tak ada yang bisa kusembunyikan, semuanya terkuak di depanMU. mana bisa aku berpura-pura walaupun sering kau temukan aku dalam keadaan mencuri tulang didepanMU. aku telah berkali-kali munafik dalam ibadahku. Engkau-pun paham betul bagaimana tabiatku, kalau kata GUS MUS, aku malu didepan keramaian, menjadi orang suci didepan manusia tapi seketika aku menjadi buas saat berdua denganMU.

ada satu lagi pertanyaanku, kenapa rasa takutku ini belum pernah kualamatkan padaMU? banyak hal yang kutakutkan di bumiMu ini, yang artinya semua adalah kepunyaanMu. tapi Engkau sendiri yang Empunya belum pernah sedetik pun kutakuti. sebenarnya manusia apa aku ini? butakah? keras hatikah?

Tuhan....tapi dari semua yang kutakutkan ada satu yang paling mengerikan bila itu terjadi, bila Kau sudah enggan mencurahkan kasih sayangMu, Engkau tak ingin lagi memberi ridhoMu, Kau sudah jenuh dengan kelakuanku. kalau sudah begitu apalah dayaku selain aku menyesal seumur hidupku. Jangan Tuhan, berilah sekali lagi kesempatan yang entah akan kugunakan baik-baik atau akan ku sia-siakan lagi. ambil semuanya tapi sisakan sedikit cintaMU. biarlah walau hanya dengan sisa-sisa ketuhananMU aku tetap begitu bahagianya.

ya....ada satu yang aku lupa justru aku belum lagi menghitung-hitung entah berapa sudah pemberianMU yang dengan rakus aku melahapnya di depanMU, malah aku sambil memakiMU. Tuhan intinya aku malu atas semua yang telah terjadi. apalagi kalau Kau akan bertanya, “nikmat manalagi yang kau ingkari?”... jawaban apa yang kupunya, bagaimana aku bertanggungjawab atas segalanya? padahal aku tidak punya apa-apa, aku bodoh. harus dimana kusembunyikan wakafMU dalam seluruh tubuhku ini yang telah aku rusakkan sendiri. aku tau jawabannya, aku ini manusia tidak tahu diri, manusia yang tidak tahu diuntung... Tuhan......semoga hari ini setiap hembusan nafas, setiap detik, setiap denyutan jantung ini dapat terbayar dengan sesuatu walau tak berharga di depanMU. biarkan aku berjalan menujuMU tanpa sedikitpun rasa angkuh. perkenankan aku memperbaiki semuanya. lembutkan hati ini untuk menerima semua petunjukMU, dan gerakkan hati ini untuk amanah atas petunjukkMU tersebut.

rencanaku sudah kutulis dalam agenda, lantas apa rencanaMU buatku Tuhan. dengan sedikit berdebar kunantikan pelajaran hari ini lengkap dengan ujian serta kunci jawabannya.mudah-mudahan aku bisa lulus hari ini.

sekali lagi terima kasih Tuhan, senang berkenalan denganMU. semoga hari ini dan esok aku masih bisa merasakan nikmatnya bercengkerama dengan kebesaranMU.

kutunggu kejutan selanjutnya....

sembah sujudku.....

satu sujud buat syukur serta satu buat ampun....

RINDUKU SELALU TUHAN

20-12-05

pagi mendung pkl: 08.12 WIB

memoar 7 Desember 2005

buah tangan dari rumah

Banyak hal yang kupelajari dari perjalananku pulang ke rumah, sampai di rumah pun banyak hikmah yang dipetik. Tapi saking banyaknya memori otak ini sedikit repot untuk mengingat-ingatnya walau dengan keras sekalipun. Hanya hikmah yang paling berkesan yang dapat ditangkap jelas. Paling penting dari segalanya adalah membina keluarga. Memang betul kata Rasulullah menikah atau berumah tangga adalah menyempurnakan setengah agama,. Bagaimana tidak, energi yang dibutuhkan didalam sana luar biasa. Hal-hal baru ditemukan dalam membangun rumah tangga, belum lagi perbedaan yang kontras yang sedikit banyak mempengaruhi atmosfir dalam rumah tangga. Budaya dan tradisi yang berbeda juga bagian yang urgen dalam mengayuh biduk rumah tangga. Namun apapun bentuk perbedaan yang ada dan muncul dalam perjalanan dua anak manusia dalam lembaga pernikahan, cuma satu kuncinya KOMUNIKASI. Walau terkesan sudah tak asing lagi, banyak hal menjadi masalah dan menjadi bahan perselisihan hanya karena kurang komunikasi. Masalah komunikasi baik dalam rumah tangga ataupun semua aspek kehidupan sifatnya sangat vital dan paling mendasar, entah bagaimanapun bentuk dan caranya. Komunikasi tergantung pada pelakunya, atau bisa jadi kesepakatan dari kedua pihak yang akan berkomunikasi tersebut. Karena bagaimanpun baiknya niat dalam hati atau pesan dalam otak kalau cara dan bentuk apalagi waktu yang dipilih dalam berkomunikasi salah atau kurang pantas maka buyarlah semua urusan. Terkadang cara yang dianggap sudah cukup baik malah ternyata membuat masalah semakin runyam. Disaat itulah alternatif cara atau media digunakan untuk berkomunikasi. Misalnya saja ketika bahasa verbal cukup membuat masalah semakin sensitif, maka bahasa tulis bisa menjadi alternatif.

Sebenarnya kesalahan atau perselisihan sangat tidak bisa dihindarkan, hanya saja yang paling penting adalah semangat memperbaiki. Semangat membangun bagi pasangan dalam menjalani hidup ini. Terlebih lagi upaya membuka diri untuk mengakui dan menyadari kesalahan juga hal yang sangat penting untuk diperhatikan yang terkadang hal inilah yang membuat seseorang sulit memperbaiki kesalahan yang diperbuat. Termasuk hal yang paling krusial untuk diperhatikan adalah cara menyampaikan kritik atau saran. Untuk yang satu ini, bisa jadi orang yang dikritik menjadi tersinggung hanya karena kita kurang bijak menyampaikannya, apalagi waktu menyampaikannya tidak pas dengan kondisi hati orang tersebut, maka bisa jadi yang ada hanya pertengkaran dan sakit hati. Butuh keterampilan bahkan usaha yang keras memang untuk mengatasi kondisi dan situasi semacam ini. Namun bagaimanapun kondisi komunikasi yang terbangun dalam rumah tangga tersebut, semuanya bisa diatasi dengan kesepakatan antara suami istri atau anggota keluarga. Berbeda boleh saja, lumrah bahkan berkah kata Rasul, namun semuanya bisa diambil benang merahnya bila semua pihak bersepakat jalan mana atau cara apa yang dipakai untuk menyelesaikan masalah. Saling terbuka adalah modal utama untuk melakukan komunikasi dan dasarnya adalah percaya, karena bila kita tidak percaya dengan salah satu anggota keluarga atau suami kepada istri dan sebaliknya maka akan mustahil bisa saling terbuka. Sepanjang pengalaman saya, memang bila saya belum sepenuhnya percaya pada seseorang misalnya, maka saya akan susah sekali terbuka atau jujur tentang masalah saya yang sebenarnya. Faktornya mungkin banyak sekali, bisa jadi saya melihat orang itu tidak amanah apalagi menyangkut aib, orang itu tidak mengerti kondisi saya dan banyak lagi. Makanya betul kata pepatah bahwa membangun kepercayaan orang lain adalah hal yang paling sulit. Katakanlah kita sudah saling mengenal, ternyata hal itu pun belum menjamin rasa kepercayaan kita terhadap orang itu. Tapi semuanya bisa diatasi sejauh kita masih punya semangat atau dorongan untuk memperbaikinya.

ahad pagi nan mendung.

memoar 17-Juli-2005

Beberapa hari yang lalu saya dipertemukan dengan seorang wanita muda yang saya taksir seusia dengan saya. Aneh sekali, saya berkenalan dengannya lewat internet. Kami chatting dan ia mengatakan bahwa ia tertarik bahkan menggeluti dunia tulis menulis. Ia sedikit bertanya tentang menulis dan bagaimana mengirim karya ke penerbitan. Mungkin karena saya kuliah di jurnalistik jadi ia mengira bahwa saya punya pengalaman di dunia tulis menulis dan penerbitan. Padahal saya sudah bilang kalau saya belum pernah sama sekali mengirim tulisan atau semcamnya ke penerbitan. Jangankan ke penerbitan ke sebuah media saja saya belum pernah. Kemaren ia meminta tolong lewat email untuk mengirimkan karya ke sebuah penerbita di Yogya.

Saya makin heran, ia tak mau identitasnya diketahui, bahkan anehnya lagi ia malah mengizinkan kalau karya novel tersebut dikirim dan diterbitkan atas nama saya. Saya tentu tidak mau karena itu sama saja dengan berbohong pada diri sendiri. Tapi walaupun kita tidak saling kenal saya tetap saja mau berusaha membantunya tanpa ada motif apa-apa. Karena itu beberapa hari yang lalu kita membuat janji untuk bertemu. Ia memutuskan untuk mendatangi saya di kos.

Setelah bertemu tetap saja seperti saat kami chatting ia merahasiakan siapa dirinya, asal-usul atau cerita tentang hidupnya.
Malah ia meminta saya untuk mengambil naskah novelnya kepada teman lelakinya yang sama sekali tidak saya kenal. Ia mengaku tidak mau bertemu dulu, maka sayalah yang diutus bertemu di depan pusat perbelanjaan.

Dengan kriteria yang ia sebutkan saya menunggu orang tersebut selama satu jam. Saya menunggu dan tak kunjung datang orang yang dimaksud. Padahal saya ada tugas satu jam lagi, maka saya memutuskan untuk pulang saja. Tak ada firasat apa-apa dalam benak ini. Walau saya tidak kenal sama sekali, saya tetap saja membiarkan diri terlibat dalam episode kali ini. Teman-teman kos saya saja merasa aneh akan cerita ini. Bahkan berburuk sangka. Apalagi saya dititipkan sesuatu untuk diberikan kepada lelaki itu.

Malam harinya saya pun ditelepon oleh lelaki itu menanyakan alamat saya alasannya ia akan datang mengantarkan naskah novel yang sudah di printkannya buat gadis yang mengaku bernama Re itu. Kami pun bertemu, namun naskah tak dibawa malah kami bercerita tentang internet. Esoknya Re itu menghubungi saya. Ia menanyakan naskah tersebut, ya jelas saja tidak ada karena masih dibawa oleh temannya tersebut. Barulah Sabtu malam lelaki itu mengantarkan naskah tersebut ke tempat kerja saya. Lantas esok paginya saya menerima dan selintas membacanya.

Seperti biasanya saya chatting dengan Re. Saya pun memaksanya untuk mengaku siapa dia sebenarnya. Tentu saja saya penasaran karena setelah sekilas saya membca novelnya, luar biasa sekali. Tampaknya wanita ini sudah bukan sekali dua kali menulis sebuah karya tulis. Ia jauh lebih berpengalaman, berbakat dan punya kelebihan yang belum saja tampak ke permukaan. Ia tetap saja tak mau mengaku, malah ia mengirimkan email yang berisi sekilas tentang dia yang masih saya tersirat maknanya. ah...saya tak mau ambil pusing sebenarnya, biarlah siapa dia atau darimana asalnya, siapa keluarganya sata tak peduli. Saya hanya masih penasaran dengan teka-teki pertemuan kami yang sudah di setting Allah nan Agung. Saya sepertinya sedang diajarkan sesuatu oleh Sang Guru Hakikat. Saya seperti harus mengambil sesuatu dari pertemuan singkat saya dengan seorang Re. Entah kenapa pula beberapa hari ini saya bertemu dengan sosok yang tidak disangka-sangka dengan dunia menulis.

Saya masih takjub dengan skenario Tuhan yang serba misteri ini. Saya seperti diperlihatkan dengan kenyataan bahwa pernyataan semakin berisi semakin merunduk atau betapa kita tidak boleh pongah dengan apapun yang diberi pada kita. Malah saya sempat berfikir bahwa inilah saatnya saya untuk berteman dengan sesorang tanpa harus melihat masa lalunya. Saya harus menerapkan prinsip yang saya pegang teguh diam-diam bahwa jangan melihat seseorang dari kemasan atau penampilan luarnya. Istilah kerennya Don´t judge the book from it´s cover.

Apalagi seperti kasus saat ini saya sama sekali tidak tau asal usulnya. Apa mungkin juga begitulah seharunya bersahabat. Tak perlu tau siapa dia. Kita hanya berteman dengan keyakinan bahwa dia memang dipertemukan dengan kita dan menjalani cerita bersamanya ke depan bukan kebelakang.

Saya seperti ditantang dengan konsep berteman lainnya. Mulai dari berteman dekat layaknya saudara sendiri bahkan saling memiliki. Namun kali ini saya dihadapkan pada kenyataan lain. Saya seperti diajarkan tentang sifat tawadhu yang sebenarnya. Sikap hidup yang tak harus orang lain tahu tentang kelebihan ataupun kehebatn kita karena semuanya milik Tuhan. Saya diharuskan untuk belajar lagi dengan siapapu itu tanpa harus melihat siapa dia sebenarnya.

Saya juga ditantang untuk jadi orang yang dipercaya atau diberi kepercayaan tanpa memandang siapa yang memberi kepercayaan. Saya seperti dipaksa untuk membuka topeng, menanggalkan kepura-puraan, dan menelanjangi kebohongan-kebohongan manis yang lebih tepatnya sebuah kemunafikan.

Saya lantas malu pada diri sendiri. Saya menjadi semakin kecil dihadapan Sang Maha Besar. Saya bukan apa-apa dan siapa-siapa. Begitulah ternyata saya diberi Tuhan contoh nyata tentang pernyataan yang selalu keluar dari bibir qalbu saya. Karena ternyata kata-kata itu juga keluar dari mulut seorang Re yang masih tetap menjadi misteri buat saya. Tak perlu menonjolkan diri dan kata orang bijak orang yang beradab adalah orang yang tidak banyak bercerita tentang dirinya. Mungkin itu yang perlu saya camkan dalam hidup ini. Karena memang 3 tahun belakangan ini saya selalu dipertemukan dengan orang-orang yang tawadhu akan kelebihannya. Diam emas yang menyimpan banyak mutiara di dasar dirinya. Itulah yang saya sangat butuhkan. Saya benar-benar ingin seperti itu. Orang yang menyimpan cerita kehebatannya dan tampak tidak tau apa-apa. Padahal ia orang yang ahli di dunia yang ia geluti. Disepelekan orang lain karena penampilannya tak meyakinkan padahal ialah orang yang dicari. Tuhan, memang harus saya bersyukur atas jalan cerita yang kau pilihkan untuk diri ini. Tapi saya selalu butuh pertolonganMu untuk memecahkan teka-teki berikutnya. Semoga aku lulus untuk ujian berikutnya agar dapat aku memetik hikmah dari setiap kejadian sehingga hamba bersyukur atasNya.

memoar 10-07-05

Entah kenapa saat ini ketika aku melihat wajahku di cermin, aku merasa jijik. Tiba-tiba aku ingin marah. Wajah ini jelek sekali rupanya. Aku muak. Apa aku sedang memaki Tuhan? Tidak......aku cuma luka melihat wajah ini. Ada semburat bau busuk dari sana yang selama ini selalu kusimpan rapat-rapat. Apa aku tidak bersyukur? Tidak... justru aku bersyukur wajah jelek ini masih Tuhan selamatkan dalam bentuk lain. Pantang menyesal...karena hanya menambah luka dihati. Wajah ini tidak jujur. Wajah ini banyak kebohongan. Kotor sarat dosa dan nista. Andai bisa wajah ini kukuliti. Maka detik ini hanya tinggal kepala tanpa wajah.

Wajah ini penuh luka bertahun.....berkudis dan borok penuh nanah yang tak kunjung sembuh.

Wajah ini munafik.....wajah ini mengecewakan. Benar-benar aku jijik dibuatnya. Tapi haruskah anggota tubuh lain menolak keberadaannya? Padahal wajah ini perwakilan dari anggota tubuh lainnya. Berarti sama hinanya??? apa yang hrus kubuat Tuhan. Rasanya aku sendiri ingin meludahinya. Apa jangan-jangan Engkau juga??? Bukan..bukan aku memaki mahakaryaMu. Tapi justru aku telah mencacatkannya dengan kedua tanganku ini. Bagaimana aku nanti mengembalikanNya??? ketika Kau memeriksa kelengkapan dan keindahannya. Karena yang tertinggal cuma noda-noda hitam di wajah yang hampir menutupi seluruh wajah.

Ya Robbi....air apa yang bisa membasuhnya hingga suci? Aku malu......ingin kusembunyikan tapi dimana???

senyum ini lebih mirip iblis. Tatapan ini tenang menenggelamkan. Menyesatkan. Seakan-akan energi negatif didalamnya yang sewaktu-waktu bisa menghancurkanku sendiri.

Ya Rahman......ulurkan tali pertolonganMu, biar aku bisa keluar dari kemelut ini dengan selamat. Mudah-mudah semuanya belum terlambat!!!!!!!!!!!

AKU TAKUT

memoar 07-07-05

Kejadian itu terulang kembali lagi hari ini. Ya,...kalau sudah begini memang aku yang harus dipersalahkan. Kembali lagi aku terbuai dalam kelemahan, dalam ketidakberdayaan untuk mengatakan ¨tidak¨. Kalau dibilang pasrah mungkin terlalu berlebihan. Tapi semalaman sudah kupikirkan walaupun hasilnya sama saja, mengecewakan. Kalau mengatakan, aku cuma manusia biasa terlalu picik jadinya, seolah-olah aku memang enggan berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari kemelut yang hampir sering terjadi. Kepada Sang Khalik aku cuma berbisik lirih.... Tuhan keterlanjurbasahan ini sudah kurencanakan. Sebentar tadi aku jadi budak. Tuhan...... mau tidak mau aku terima kekalahan ini.

Entah kenapa aku sedikit yakin tuhan sepertinya geleng-geleng kepala. Dia paham betul aku ini tipe manusia gombal, manusia ¨ada maunya¨. Kenapa fungsi otakku bekerja setelah kejadian itu berlalu. Semburat penyesalan sempat terasa walau cuma sekejap. Untuk apa pasrah? Itu kalimat yang pantas saat ini kalau ternyata memang secuil keinginan dalam hati agar semuanya terjadi. Aku lelah sebenarnya. Aku sedikit jenuh memerankan si Pendosa. Aku datang dari perjalanan jauh dengan gaun pesta lusuh dalam perjamuan pengampunan dosa.

Tuhan...benar memang, sudah kubuktikan kalau ternyata cintaku padaMu cuma secuil, tak ada apa-apanya. Tak sebanding dengan apapun yang berharga di dunia ini. Aku lebih suka memilih yang bukan Kau pilihkan untukku. Bagaimana jadinya Tuhan? Apa hasil dari ujianku kali ini? Siksa apa yang akan Kau pilihkan untuk sangsiku kali ini? Atau.....jangan-jangan malah Kau tak peduli lagi??? Ampun....... beribu-ribu ampun, hamba mohon walau telah Kau ambil semuanya dariku. Apa tak pantas lagi aku disisakan cintaMu. Apa...Kau...telah jenuh juga memperkerjakanku di muka bumiMu ini?

ya..... walaupun Kau telah abadikan Rabb, dalam ayatMu sebuah janji bahwa demi waktu sepenggalah naik, Tuhanmu tidak membencimu dan tidak pula meninggalkanmu, tapi aku terlanjur dihantui rasa takut Rabb, aku terkadang hanya bisa khawatir. Apa mungkin karna aku belum begitu yakin? Rabb, segera turunkan bantuan. Aku mohon dan mengiba wakafkan kembali cahayaMu nan suci. Ya aziz Kaulah yang memiliki Kuasa. La haula wala quwwata illa billah.

Ampun....Ya ALLAH. Luruskanlah jalan hamba. Bimbing hamba kembali menuju pangkuanMu, walau hamba harus jatuh bangun.

Thursday, December 07, 2006

segumpal asa

semoga tiupan terompet
tahun baru itu
dapat memberi warna baru
dalam setiap alunan perjalanan waktu

semoga dari tiupan terompet
tahun baru itu
akan ada asa & gairah baru
untuk diri

semoga dari tiupan terompet
tahun baru itu
akan ada sebuah pertanda
bahwa Tuhan masih
berbaik hati memberi waktu

semoga tiupan terompet tahun baru itu
membuat segalanya menjelma
menjadi baru dari yang lalu

hanya saja
tiupan terompet tahun baru itu
mengingatkan pada tiupan sangkakala
pertanda segala
sudah berakhir
dan berlalu.

31 januari 2006
pkl : 19.00 WIB




sajak akhir tahun

untunglah hari ini
pena masih mengalir
otak belum lagi mandeg
walau hati gusar & gelisah

untunglah hari ini
pena enggan mencoret
sketsa masa lalu
yang mampu memburamkan
arah petualangan

untunglah hari ini
pena mau membuncahkan
isak tangis
beban derita
dalam genangan kata-kata
yang mamapu
mengobati luka
mengurangi kepedihan hati

untunglah hari ini
mata pena tetap runcing
menusukkan kata dalam hati
agar hati-hati memadu hati
tetap lihai menari-nari
dalam secarik bait
patuh pada garis-garis tangan
yang digores Tuhan waktu lalu

untunglah hari ini
pena tetap setia
mengiringi nasib
menuliskan takdir
berkisah abadi dalam kitab mahaKarya

untunglah hari ini
pena masih mengukir
garis agar aku sampai
pada hati para sahabat

untunglah hari ini
pena tetap
memesankan waktu
biar diri
mengecap waktu
lebih baik

untunglah
pena & tinta
belum lelah
menemani
kesendirian
kelelahan
kesahajaan
penderitaan
kesedihan
kebahagiaan
tapi tidak untuk
airmata

kamis, 29 Desember 2005
pkl : 08.10
RESAH

Tuhan...
P******* dengan wujud dan rupa
yang penting aku men******MU
lebih dari apapun
terserah bagimana paras
kekasihMU
sang manusia mulia
nur diatas nur
yang pasti aku merindukannya
***** buta kata mereka
tapi apa salah
bukankah lebih baik daripada tidak

tambah pula Kau lihatkan
kuasaMU pada dunia
aku tampak kerdil
jiwaku ciut
ragaku bukan apa-apa

diam-diam dalam hati tak pernah
takut & malu
padaMU
padahal dari dulu aku berikrar ***** padaMU

aku malu pada waliMU
pada nabiMU
yang Kau janjikan
jutaan kebaikan
tapi sanggup berkorban
segenap jiwa raga
sedang diri sedikit pun
enggan memberi

aku lantas hina seketika
saat Bapak segala Nabi
mempersembahkan kebahagiaan
sepenuhnya untukMU
sedang aku masih menghitung
'cuma ini yang aku punya'

berkali-kali aku jatuh
namun enggan bangkit
pun telah Kau beri
cobaan manis
lantas bisa kuhanyut
dan berpaling

Tuhan
guncang kembali nuraniku
pinjam kembali cahayaMU
wakafkan lagi secercah
hidayah
agar jalan tetap tegak
agar hati tetap kukuh
agar aku bisa
menyaksikan
bahwa tidak ada Ilah selain Engkau
dan Muhammad nan mulia
adalah kekasihMu tercinta
agar aku bisa
pulang dengan tenang
membawa bekal dan
kesaksian

ahad-senin
15-16 Januari 2006
pkl : 08.40 WIB
sebuah kenangan idul adha

Sunday, January 15, 2006

aku ini perempuan sial


aku perempuan sial

yang datang dari masa lalu

aku enggan

beriringan dengan jiwa-jiwa mulia

yang terkadang kurindu jua


dalam genangan debu hasrat

yang menyeret tubuh

lunglai terbias

hingga kini


baju lusuh ingin kulepas

tapi sekarang

menghantui saja kurasa

tak terganti

sulit dihapus


dulu pernah berkembang mewangi

rupa elok selalu didamba

kini tak satupun tersisa

parasku lusuh

borok-borok bekas luka

tak mungkin hanya dibasuh dengan air mata


aku perempuan sial

yang penuh harap

jauh dari belaian kasih

dambaan hati


raut wajah sudah tak suci

ragaku remuk

hancur dalam buaian

rangkaian cinta kunamai tahun lalu


selasa, 30-03-04

pkl: 06.25 WIB