There was an error in this gadget

Thursday, October 07, 2010


Tentang Ayah

lekah sembuh ya Yah,,!!! aku rindu padamu


Tiba-tiba rindu ayah. Pikiran ini langsung melesat pada memori yang begitu indah saat dirumah bersama ayah ketika kecil dulu. Seperti ada mesin waktu yang membawaku ke rumah kecil di Pematang Siantar hasil kerja keras ayah, tempat kami bernaung dari panas dan dinginnya malam. Disana aku dan ayah sering bercanda. Entahlah....menurut saudara kandungku, dengan aku yang bungsu ini ayah sudah mulai agak santai dalam menghadapi anaknya. Memang dari dulu hingga sekarang bila berseloroh dengan ayah, kami seperti teman akrab saja, bahkan katanya kadang aku agak tidak sopan tapi bukan maksud tidak menghargainya. Hobiku mengelitik pinggang dan perut ayah yang gembul. Begitupun ayah tetap disiplin bila mengajariku, sering juga aku dimarahi bila memang bersalah. Bagiku, walau agak keras mendidik, tapi ayah penuh kasih sayang.

Ayah sering mengajakku berdiskusi, apalagi saat nonton TV bersama, khususnya program berita. Ayah sering menyampaikan ide dan gagasannya yang sering tak boleh diremehkan. Walau ayah cuma tamatan STM tapi pengetahuannya sekaliber sarjana. Ajang diskusi itu menjadi pelajaran buatku walau kadang ayah suka menyindir kalau banyak informasi yang aku tidak tahu. Ayah selalu bilang “gimana bangsa Indonesia ini jadinya kalau anak mudanya kayak gini”. Ya, itu yang kadang menjadi cemeti buat aku harus lebih giat lagi belajar dan tahu banyak informasi penting. Walau ayah hanya seorang wiraswasta, tapi ayah punya cita-cita besar buat bangsa ini. Ayah selalu berpesan “kalian harus jadi orang besar biar bisa membangun bangsa ini”.

Satu hal yang paling tak terlupakan adalah masakan ayah. Wah kalau untuk yang satu ini ayah boleh diadu. Citarasa dan kemampuan ayah mengolah bumbu dapur tak diragukan lagi. Bedanya ayah dengan chef atau koki handal hanya satu, ayah tidak pernah sekolah memasak. Keahlian itu didapatnya dari sekolah hidup ini. Bahkan terkadang ayah dengan mudah membedakan masakan yang menggunakan penyedap rasa dengan bumbu asli. Kalau aku diajak ke dapur, suka diomelin ayah. Tentu saja karena bila ditanya tentang bumbu dapur aku selalu bilang “Gak tau!”. Ayah hanya geleng-geleng kepala.

Ayah yang dulu selalu mengantarkan kami ke sekolah dan mengaji sore di madrasah. Sampai aku Sekolah Menengah Umum (SMU) pun bila mengaji sering diantar ayah pakai motor Honda kesayangannya. Ketika masih sekolah dasar, saat diantar mengaji Ayah selalu bertanya “bawa payung gak?” dan dijawab “enggak bawa” maka ayah bisa berang dan geram. Bahkan pernah satu waktu ayah sampai memberhentikan motor di jalan dan memarahiku. Masih kuingat dulu, aku sering dipanggil Robot oleh teman mengajiku gara-gara bila hujan ayah membekaliku dengan mantel yang menenggelamkan seluruh tubuh kecilku. Begitulah khawatirnya ayah soal kesehatan. Ibaratnya tak boleh satu titik air hujan yang boleh menyentuh kulitku. Apalagi aku memang terkenal paling sering demam dirumah dan sakitnya pasti berminggu-minggu.


Masalah pendidikan, ayah cukup cerewet dan keras. Kami harus sekolah setinggi-tingginya. Harus jadi orang berguna kelak. Apalagi soal pendidikan agama, ayah punya prinsip yang kalau orang biasa mendengarnya agak aneh “lebih baik tidak sekolah daripada tidak mengaji”. Tapi bukan berarti boleh tidak sekolah. Itu hanya kiasan ayah mengingatkan betapa pentingnya ilmu agama. Itulah sebabnya kenapa saat teman-temanku sibuk bermain aku sibuk mengaji bahkan sampai SMU.

Ayah mengajarkan banyak hal. Bahkan bagaimana seharusnya seorang perempuan bersikap pada suami juga diajarkan ayah. Ini karena ayah adalah seorang yang kalau melayani orang lain benar-benar bersungguh-sungguh. Ayah bukan tipe laki-laki gombal, tapi istilah kakakku adalah gentleman. Begitu telaten kalau mengurus dan memberi perhatian pada orang terkasihnya. Bicara soal perhatian, kalau aku sakit ayah begitu sabar dan telaten mengurusiku. Membuat makanan kesukaan, memijat badan, memberi obat, meninabobokkan kalau sulit tidur dengan membaca ayat-ayat suci sambil menepuk-nepuk badan dan banyak hal lain yang luar biasa yang mungkin tak semua ayah melakukan itu. Kalau untuk hal ini aku sering malu pada diri sendiri. Cobalah kalau ayah sakit, aku tak bisa buat apa-apa. Malah dulu waktu kecil, saking nakalnya aku bila ayah minta dipijat atau minta diberikan sesuatu, kalau tidak dilakukan dengan males-malesan juga terkadang kabur. Maafkan aku yah!

Ayah sering minta dibuatkan kopi atau teh setiap sorenya sepulang dari kios. Pastinya dengan takaran gula dan kopi atau bubuk teh yang sudah kami sepakati bersama. Kalau datang nakalku, kadang bila disuruh buat minum aku pura-pura mengelus-elus kucing kesayanganku maka ayah marah dan bilang “udah biar ayah yang buat tangannya udah kotor”. Padahal ayah sadar betul itu sengaja kubuat. Ah ayah....kapan aku bisa menebus semuanya.
Soal penampilan, ayah benar-benar sederhana, pakaiannya sedikit. Suka sayang kalau mau pakai baju baru hingga kami jadi malas bila mau menghadiahi ayah baju atau celana. Kalau emak bilang, baju ayah itu lemari yang pakai sampai kadang sudah kekecilan bila akan dipakai. Untuk hal pakaian ayah memang tidak peduli, makanya bila minta duit buat beli baju baru ayah agak susah memberinya tapi mintalah berapapun untuk beli buku atau majalah maka ayah akan memberinya dengan senang hati. Bahkan dulu waktu kami kecil, mainan kami tergolong mainan mahal dibanding anak-anak lain. Tentu tak sekedar mahal tapi mainan yang ada unsur pendidikannya, karena bagi ayah dengan mainan kami bisa belajar. Nah untuk baju, ada jurusnya yang mungkin dikeluarga lain pun dipakai, yaitu jurus “mewariskan”. Si kakak mewariskan baju pada adik dibawahnya lalu dibawahnya lagi dan seterusnya. Tapi ini tidak jadi masalah karena kami cukup merasa senang.

Ayah seorang workaholic. Pekerja keras. Hanya punya sedikit waktu untuk tidur, sampai-sampai tekanan darah ayah rendah karena tak cukup istirahat. Apa saja yang bisa dikerjakannya, maka ia tidak pernah lelah. Mulai dari urusan pekerjaan rumah tangga sampai pertukangan semua dikerjakan. Ayah tak pernah bangun siang. Seringnya ayah sudah nongkrong didapur sehabis subuh.nah kalau aku masih tidur maka ayah pun menyerang dengan berkata “gimana mau jadi wartawan kalau bangun siang, mana bisa cari berita!” dan satu lagi “mana bisa ngalahin Rosiana Silalahi!” kalau pesan yang ini ayah selalu bilang bahkan sampai saat aku sudah kuliah dan jauh dari rumah. Pernah sekali waktu, saat pagi hari mau sekolah aku belum bangun, ayah dengan idenya yang kadang jahil membuka pintu kamarku dan memasukkan kucing piaraanku yang lebih dari 2 ekor ke dalam kamar dan naik ke tempat tidur.

Untuk urusan kucing, kami selalu bersama-sama bila hendak memberi makan mereka. Bahkan kami menjahili kucing-kucing itu sebelumnya. Sebelum makan, semua pintu dan jendela untuk kucing masuk ditutup hanya disisakan satu jendela saja. Kemudian tanda makan dibunyikan yaitu mengetok piring dengan sendok persis tukang bakso lewat. Kucingnya sudah terbiasa, maka mereka yang sekitar 3 ekor itu berlari menuju arah suara dan tempat makan biasanya yang sebelumnya dikeluarkan dulu dari pintu lain. Tentunya mereka hanya bisa masuk dari satu jendela yang sengaja dibuka tadi. Aku dan ayah menyebutnya rally. Ketika sudah 2 putaran mengelilingi dapur barulah mereka diberi makan dan lahap menyantapnya.

Ada lagi ide jahil atau bisa dibilang ide kreatif ayah. Ayah tahu betul kalau aku maniak mi instan dan malas makan sayur. Aku kadang rela tidak sarapan. Nah kalau ayah masak mi instan maka tak ada yang bisa menghalangi tekadku walau sudah terlambat sekolah maka Aku harus sarapan!. Kondisi ini diakali ayah, supaya aku mau makan sayur, maka saat masak mi, ayah mencampurkan sayuran yang sudah diiris setipis dan sekecil mungkin hingga menyatu dengan mi. Sampai-sampai aku tidak bisa memilah-milah antara mi dan sayurnya. Apa boleh buat ya akhirnya dimakan semuanya. Taktik ayah benar-benar manjur dan jitu! Tidak hanya aku, kucing pun kena bagian ide kreatif ayah, bila memberi makan kucing maka ikannya digiling halus dan diaduk dengan nasi. Tentu si kucing tak mampu memilah-milah mana nasi, mana ikan. Manusia aja gak bisa apalagi kucing!!! Biar adil!

Pernah satu waktu masih tentang ide ayah soal kucing, saat masak ayah meminta aku membelikan kelapa parut untuk membuat santan ke warung dekat rumah. Biar aku tak sendirian dan bersemangat pergi maka ayah mengambil sebatang serai yang sudah dibelah lalu melilitkan ikan asin diujungnya. Aku disuruh untuk membawa batang serai dengan ikan asin itu agar dibaui oleh kucing dan mengikutiku sampai ke warung dan bila kembali lagi baru ikannya diberi. Berangkatlah aku dengan dibuntuti kucing sambil mengendus-endus ikan tadi sampai aku kembali ke rumah lagi. Lagi-lagi taktik ayah jitu! Mungkin kalau si kucing diberi akal pikiran, pasti akan bilang “tak sudi ye...” diperlakukan kayak gitu. Dasar ayah!!

Ayah, mengingatkanku pada sosok yang tangguh walaupun kadang harus lunglai didalam rimba bahaya. Sendiri dengan kekuatannya menghalau rintangan yang dihadapinya walau hanya dengan serdadu istri dan anak-anaknya. Ayah...lambang kekuatan untuk tetap tegak dalam arena kehidupan. Bila menelusuri guratan pada kulit wajahnya akan bercerita banyak tentang lelahnya dari muda hingga senja. Ya ayah pernah bercerita tentang getir kehidupannya dulu sejak kecil hingga kini kami anak-anaknya sudah tumbuh dewasa. Itu sebabnya ayah menjadi orang yang pantang mengeluh, tidak cengeng bila menghadapi segala persoalan. Bukan hanya karna kelaki-lakiannya tapi karna semata-mata ujian dalam perjalanan hidupnya. Ayah hanya seorang yang sederhana dengan tekad yang besar dan saat ini itu coba ditularkannya pada kami anak-anaknya. Ayah terlatih dalam berbagai hal yang dipelajarinya lebih banyak dengan otodidak dan sarat pengalaman, karena itu ayah begitu marah kalau kami malas belajar, gampang menyerah, apalagi mengeluh dengan keadaan.

Kesederhanaan memaknai hidup dan menghidupi orang lain dengan penuh makna menjadikan ayah pandai bersyukur dan banyak memberi. Ayah...wadah belajar dan menggali sumur ilmu. Ayah..gudang pengalaman yang tak tergantikan. Bentuk keras dari sebuah kasih sayang. Bentuk kaku dari sebuah perlindungan. Ayah terkadang jadi tempat sasaran penderitaan, duka bahkan pengkhianatan. Tapi karna kekuatan amanah lebih dahsyat dibanding kekuatan cobaan yang dihadapi membuat kami percaya bahwa kaulah yang jadi pemenang. Bukan hanya usia yang membuat aku yakin kau penuh dengan pahit getirnya kehidupan namun dari sorot matamu yang pantang mengeluarkan airmata. Hatimu berkali-kali tercabik oleh luka yang bahkan itu datang dari tanganku sendiri. Andai saja dihitung-hitung besar pengorbananmu yang kau tanggung sendiri dengan apa yang sudah aku berikan maka sama saja seperti timbangan yang berat sebelah.

Semangat hidupmu begitu menyala di dalam rumah sehingga kau mampu bertahan dengan segala aral. ‘Penerimaanmu’ terhadap kami yang pernah melukai hatimu yang membuat aku tak sanggup berkata-kata apapun lagi. Alangkah beruntungnya diri dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang bina seorang pemimpin seperti ayah. Namun kata orang bijak seorang pemimpin dikatakan berhasil dengan melihat generasi yang ditingalkannya. Mudah-mudahan ayah termasuk kategori pemimpin yang berhasil. Aku benar-benar mengidolakan ayah. Semangat hidup dan ketangguhannya menghadapi ujian hidup menjadi inspirasi dan cambukan buat diri untuk tetap bertahan hidup. Begitu bangga diri bila bercerita tentang ayah agar dunia tahu betapa ayah memang layak dibanggakan.

Begitupun harapanku agar aku jadi kebanggaan ayah. Agar tak sia-sia segala pengorbanan dan cintanya. Semoga semua luka hati ayah dapat diganti dengan kebahagiaan dunia dan akhirat. Semoga ayah menjadi orang terpilih Tuhan untuk menerima jamuannya di surga kelak. Mudah-mudahan segala kerja keras ayah akan berbuah manis pada anak-anakmu nanti. Semoga istri dan anak-anak ayah benar-benar menjadi harta tak ternilai buat ayah di dunia ini dan di akhirat kelak.